Refleksi Anosel atas Opini lewat Carousel IG

foto opini carousel

Selama ini saya berpikir bahwa menulis opini itu, ya, di koran. Tapi 1 Agustus lalu saya mencoba keluar dari pakem berpikir itu: menulis opini lewat carousel di Instagram pribadi. Bisa dilihat disini 

Opini melalui carousel di Instagram bukan hal baru, tapi baru bagi saya. Dalam waktu 72 jam, opini carousel itu sudah menembus 8.418 views, 40 repost dan 26 save. Ini jauh melebihi perkiraan saya. Namun, angka ini bukan hal utama dan kurang menarik. 

Tapi pengalaman pribadi itu malah bikin saya kepikiran ini: kampus kita beberapa kali menampilkan publikasi dosen-dosennya di media sosial. Ini harus dilakukan. Tapi bagi saya, postingan itu baru sekadar merayakan publikasi dengan ucapan selamat, pemajangan foto penulis, judul artikel, nama jurnal, dan pastinya, logo Scopus. Sayangnya, isi penelitiannya kurang jelas. Apa ide utamanya? Mengapa penemuan itu penting bagi masyarakat? 

Barangkali kita perlu bergeser sedikit dari "merayakan pengetahuan" ke "menyebarkan pengetahuan".

Bagi saya, masyarakat sebenarnya tertarik pada ilmu pengetahuan. Persoalannya pada kampus seringkali menyampaikan produk pengetahuannya dengan cara yang hanya dipahami oleh sesama peneliti, akademisi saja. Artikel ilmiah memang penting untuk ditulis oleh para akademisi. Itu kewajiban akademisi dan namanya artikel ilmiah harus ditulis dengan kaidah ilmiah juga. Namun, masalahnya adalah ketika kita menganggap bahwa jurnal ilmiah adalah satu-satunya bentuk komunikasi hasil penelitian. Di sinilah kesenjangan antara kampus dan masyarakat semakin melebar.

Padahal, penelitian yang dilakukan oleh akademisi itu menggunakan dana publik dan topik risetnya pun bersentuhan dengan masalah-masalah yang sehari-hari dihadapi publik, seperti stunting, kenaikan harga pangan, politik anggaran, konservasi, dan lain sebagainya. Jika penelitian-penelitian itu menggunakan dana publik, maka publik juga punya hak untuk menagih agar hasil penelitian itu diketahui. Syukur-syukur bisa bermanfaat. 

Tapi, publik tentu perlu disajikan bentuk komunikasi pengetahuan dengan penjelasan yang sederhana agar mudah dimengerti tanpa harus membaca artikel jurnal sepanjang 20 halaman, misalnya. Di sinilah saya kepikiran: carousel (yang sebenarnya sudah lama jadi tren) bisa menjadi salah satu opsi komunikasi hasil penelitian, di antara opsi lain seperti vlog, infografik, podcast, atau media cetak. Carousel tidak untuk mensubstitusi artikel ilmiah, tetapi menerjemahkannya ke dalam bahasa yang sederhana, bukan menyederhanakan asal-asalan, melainkan dengan cara yang akurat dan mudah dimengerti oleh publik umum. 

Apakah menyederhanakan itu gampang? Tentu tidak! Tapi perlu kita lakukan. Konon Einstein pernah bilang, “Jika kita bisa menyederhanakan, berarti kita betul-betul mengerti.” 

Jika kita bisa bergeser dari “merayakan” ke “menyebarkan pengetahuan”, maka media sosial institusi tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan atau promosi, tetapi ruang sirkulasi pengetahuan. Dengan begitu juga, kampus menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Hari ini, saat saya melihat insight dari carousel, saya menemukan hal yang berbeda dari opini saya sebelumnya di media cetak. Selama ini, di media cetak, saya tidak pernah tahu bagaimana opini atau gagasan saya ‘hidup’ di publik. Jangan-jangan terbit, lalu sehari kemudian ‘mati’ atau tenggelam oleh opini-opini baru yang berseliweran. Tapi dengan carousel, saya jadi merasa ada kehidupan bagi opini dan gagasan saya di luar sana. Statistik dari ‘insight’ Instagram masih terus bergerak dan bertambah. 

Sekali lagi, ini bukan sekadar angka atau lomba banyak-banyakan viewers, tapi saya jadi tahu sendiri bahwa gagasan saya masih hidup di ruang sosial. Jumlah akun yang menyimpan opini saya berarti ada sekian orang yang ingin kembali ke opini saya di masa depan. Di sini saya bisa tahu bahwa gagasan saya memiliki umur sosial yang lebih panjang.

Di jurnal ilmiah, statistik semacam ini juga bisa ditemukan melalui, misalnya, jumlah sitasi, yang artinya artikel itu bermanfaat dan terus berkontribusi dalam produksi ilmu pengetahuan; artinya, ide, gagasan, atau teori itu memiliki umur epistemik yang berpengaruh dalam jangka waktu lama. Alangkah indahnya jika produk pengetahuan itu juga dirasakan manfaatnya oleh publik. Karena tanggung jawab sosial peneliti juga belum pernah dicabut sampai saat ini, apalagi ketika menggunakan dana publik. 

Saya tidak mengajak agar dosen dan peneliti menjadi selebgram, tetapi jika mau menjalankan tanggung jawab sosialnya, dosen harus mau mencari tahu di mana ruang-ruang publik untuk mencari informasi dan berdiskusi hari ini, serta memikirkan strategi agar pengetahuannya bisa hadir di ruang-ruang tersebut.

Barangkali saatnya akun media sosial kampus melangkah sedikit lebih jauh lagi, bukan sekadar pengumuman bahwa artikel telah terbit, tetapi juga berusaha menjelaskan mengapa penelitian itu penting untuk dibaca oleh publik. Bukankah salah satu pilar kampus adalah menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi publik? Jika ingin bermanfaat, perlu disebarluaskan. Dengan begitu, berpikir tentang strategi untuk mengomunikasikan pengetahuan kepada publik bukan pekerjaan tambahan, tetapi kewajiban!

Gego,
Amsterdam, 4 Agustus 2026

Comments

Popular posts from this blog

Sakralnya Gelar Professor dan Perlukah Desakralisasi?

Ngobrol sama Eki

Kelas Menengah Andalankuh