Posts

Showing posts from 2026

Refleksi Anosel atas Opini lewat Carousel IG

Image
foto opini carousel Selama ini saya berpikir bahwa menulis opini itu, ya, di koran. Tapi 1 Agustus lalu saya mencoba keluar dari pakem berpikir itu: menulis opini lewat carousel di Instagram pribadi. Bisa dilihat disini   Opini melalui carousel di Instagram bukan hal baru, tapi baru bagi saya. Dalam waktu 72 jam, opini carousel itu sudah menembus 8.418 views, 40 repost dan 26 save. Ini jauh melebihi perkiraan saya. Namun, angka ini bukan hal utama dan kurang menarik.  Tapi pengalaman pribadi itu malah bikin saya kepikiran ini: kampus kita beberapa kali menampilkan publikasi dosen-dosennya di media sosial. Ini harus dilakukan. Tapi bagi saya, postingan itu baru sekadar merayakan publikasi dengan ucapan selamat, pemajangan foto penulis, judul artikel, nama jurnal, dan pastinya, logo Scopus. Sayangnya, isi penelitiannya kurang jelas. Apa ide utamanya? Mengapa penemuan itu penting bagi masyarakat?  Barangkali kita perlu bergeser sedikit dari "merayakan pengetahuan" ke "menye...

SPPG dan Kampus Perjuangan

Image
Waktu ospek dulu, doktrin yang sering saya dengar adalah bahwa saya datang ke Kampus Perjuangan. Di FISIP Unhas, lagu ‘kebangsaan’ yang diperdengarkan sejak mahasiswa baru, lagu yang selalu bikin merinding, terharu sekaligus membakar semangat perjuangan adalah lagu ‘Kesaksian’ oleh Kantata Takwa. Penggalan liriknya: “orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi” Iya, kampus memang harusnya menjadi tempat pejuang. Apa yang diperjuangkan? Memperjuangkan kepentingan publik dengan spirit kebenaran ilmu pengetahuan dan keberanian intelektual. Untuk melakukan itu, satu-satunya jalan adalah menjadi institusi kritis yang lebih dulu bertanya apakah kebijakan atau program pemerintah itu benar, adil, transparan dan betul-betul berpihak pada rakyat. Bukan cepat-cepatan hadir dan berdiri paling depan dalam barisan pendukung program pemerintah. Karena pemerintah yang sehat, akan berharap kampus bisa menjadi mitra kritis, sehingga bisa menawarkan solusi yang ...

Terima Kasih, Trump!

Image
Caption: Presiden RI, Prabowo Subianto berfoto bersama Presiden AS, Donald J. Trump. Sumber foto: abcnews.com Di tengah maraknya narasi negatif tentang Trump, haruskah kita berterima kasih kepada dia? Jika kita mau melihat sedikit lebih jauh dari apa yang ditunjukkan oleh informasi-informasi tentang Trump, sebenarnya dia mengungkapkan banyak pelajaran tentang kepemimpinan negara, tentang bagaimana kekuatan politik bekerja. Post-truth and performative politics Dalam beberapa video pidatonya, Trump menunjukkan bahwa inkonsistensi bahkan kontradiksi adalah normal. Sebuah artikel di New York Times mengungkapkan bahwa Trump menggunakan taktik retorika yang membingungkan dengan mengubah-ubah posisi, mengaburkan pesan-pesannya yang saling bertentangan, terkadang dalam satu hari ( Green, 2025 ). Dalam artikel yang sama disebutkan bahwa Trump menggunakan distorsi dan kebohongan, termasuk pada masa jabatan pertamanya, dan komunikasi agenda politik luar negerinya membuat kontradiksi menjadi lebih...