Terima Kasih, Trump!
Post-truth and performative politics
Dalam beberapa video pidatonya, Trump menunjukkan bahwa inkonsistensi bahkan kontradiksi adalah normal. Sebuah artikel di New York Times mengungkapkan bahwa Trump menggunakan taktik retorika yang membingungkan dengan mengubah-ubah posisi, mengaburkan pesan-pesannya yang saling bertentangan, terkadang dalam satu hari (Green, 2025). Dalam artikel yang sama disebutkan bahwa Trump menggunakan distorsi dan kebohongan, termasuk pada masa jabatan pertamanya, dan komunikasi agenda politik luar negerinya membuat kontradiksi menjadi lebih terlihat.
Baginya, data bukanlah hal penting untuk selalu menjadi dasar dari kebijakan. Sebaliknya, yang menjadi penting baginya adalah bagaimana menyampaikan narasi yang terdengar meyakinkan, terutama bagi pendukungnya. Dalam masa post-truth sekarang ini, kebenaran bukanlah penentu utama dalam politik, tetapi emosi, keyakinan, dan identitas politik lebih mampu membentuk opini publik dibandingkan fakta objektif.
Pidato dan gaya bicara Trump yang cukup performatif mendukung argumennya agar terasa masuk akal. Gaya bicara atau gestur saat berpidato di podium adalah sebuah aksi panggung yang tujuannya membentuk persepsi dan meyakinkan publik. Era post-truth di mana kebenaran tidaklah absolut, tetapi sesuatu yang dinegosiasikan, dipertarungkan, yang dipengaruhi oleh emosi dan kepercayaan pribadi (Oxford Dictionary, 2016) dan era di mana ketidakjujuran mulai ditoleransi (Keyes, 2004).
Saya jadi teringat seorang teman politisi pernah mengatakan bahwa “dalam politik, tidak penting apa yang Anda lakukan, tapi apa yang orang pikir Anda lakukan.” Jadi buatlah orang beropini atau percaya bahwa Anda telah melakukan sesuatu, meskipun fakta objektifnya: tidak.
Jeffrey Sonnenfeld dari Yale menyebut bahwa Trump membangun citra sebagai sosok yang kuat dan heroik. Strategi dirancang secara matang sebagai bagian dari performa politik. Hasil polling global dari Axios menunjukkan bahwa masyarakat dunia melihat Trump sebagai pemimpin yang kuat (Axios, 2025). Dan riset yang lain mengungkapkan bahwa meskipun dianggap kuat, Trump tidak bisa dipercaya (Pew Research Center, 2025).
Loyalitas vs Kompetensi
Sebuah lembaga think-tank mengeluarkan laporan yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa tim Trump menempatkan loyalitas sebagai prioritas utama di atas segalanya dalam mengevaluasi staf untuk pemerintahan keduanya (Brookings, 2026). Berbeda dengan presiden sebelumnya yang umumnya menyeimbangkan faktor kompetensi dengan kesetiaan terhadap kepala eksekutif, tim Trump menempatkan kesetiaan sebagai syarat paling mutlak, di atas pengalaman, keahlian dan kompetensi. Salah satu indikasi yang disebutkan dalam laporan tersebut adalah rangkap jabatan oleh staf yang sangat ia percayai.
Kompetensi dan keahlian sering kali diabaikan atau bahkan dihilangkan jika hal itu dianggap menghalangi kehendak presiden dengan tujuan utama memusatkan kekuasaan politik di tangannya.
Hal inilah yang kemudian membuat kabinet Trump banyak dikritisi karena kurangnya kualifikasi yang dipenuhi oleh orang dengan pengalaman terbatas (Steve Corbin, 2025). Richard dari kelompok pembaca buku “Who Rules America?” menuliskan bahwa Trump berupaya untuk mengganti elit kekuasaan tradisional dengan kelompok yang mendukung kepemimpinan otoriter. Banyak posisi dalam kabinetnya diisi oleh individu dengan sedikit pengalaman atau pengalaman yang tidak relevan, tetapi mereka ditempatkan karena loyalitas dan kontribusi politik (Richard, 2025).
Tahun 2025 lalu, Gallup dan Pew Research Center menunjukkan bahwa tingkat approval (setuju) menurun, dengan kurang lebih 60% masyarakat yang disapproves (tidak setuju) terhadap kinerja Trump. Angka ini mengindikasikan bahwa kemenangan dalam pemilu atau legitimasi elektoral tidak otomatis sejalan dengan legitimasi sosial atau persetujuan masyarakat, terutama terhadap cara Trump menjalankan kekuasaan. Demonstrasi dalam skala yang cukup besar menolak kebijakan Trump yang terjadi di beberapa kota besar AS beberapa waktu yang lalu bisa jadi adalah refleksi dari data numerik di atas.
Pelajarannya
Trump telah menunjukkan tanda-tanda yang bisa kita pakai untuk melihat apakah politik kita mulai bergerak ke arah seperti yang dia tunjukkan. Bisa jadi tanda-tanda itu tidak sejelas yang muncul di AS karena datang dalam bentuk yang lebih halus. Kita perlu mengenal betul tanda-tandanya agar bisa kita hindari atau cegah.
Kita ingin menghadirkan pemimpin negara yang memiliki legitimasi elektoral sekaligus legitimasi sosial. Ideal ini terdengar utopia, tetapi utopia adalah sebuah proyek negasi terhadap kondisi yang buruk, sehingga utopia akan selalu ada.
Barangkali kita bisa mulai proyek utopia ini dengan pemikiran kritis dalam mengikuti kompetisi politik, di mana setiap orang menyalurkan suaranya secara independen, yaitu ketika pilihannya tidak gampang terpengaruh oleh orang tua, teman, sahabat, pacar, iming-iming sesaat, tetapi memandang gagasan dan rekam jejak kandidat. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang berpikir. Anyway, terima kasih, Trump!
Amsterdam, 1 April 2026


Comments
Post a Comment