Posts

Kapan pandemi akan berakhir?

Image
Foto dimodifikasi dari freepik.com Pertanyaan ini saya yakin ditanyakan oleh semua orang, baik secara terang-terangan atau pun cuma menggumam dalam hati saja. Akhir dari pandemi adalah harapan kita semua. Namun, siapa yang benar-benar bisa menjawab pertanyaan ini? Para sejarawan mencoba menjawabnya Salah satu artikel yang saya baca menjelaskan bahwa pandemi ini memiliki akhir dalam dua perspektif. Pertama, berakhir secara sosial. Orang-orang akan sampai pada titik jenuh untuk dibatasi ruang geraknya. Di beberapa negara, hal ini sudah terjadi, dimana orang-orang sudah tidak mau lagi tinggal dirumah dan memilih untuk beraktifitas seperti biasa. Pertimbangan pemerintah untuk membuka pembatasan sosial juga banyak dipengaruhi dinamika "berakhir sosial" ini, orang ingin bekerja untuk mendapatkan uang membiayai hidupnya dan keluarga. Dalam masa pandemi, kebijakan lebih dipengaruhi oleh hal ini bukan data medis dan kesehatan masyarakat (Brandt, 2020) Kedua, berakhir secara medis. Akh...

Pandemi Covid19: Ujian Bagi Evidence Based Policy

Image
gambar diambil dari freepik.com Sulawesi Selatan dan ibukotanya, Makassar, saat ini dipimpin oleh akademisi dengan jabatan (sebagian masyarakat umum memaknainya sebagai sebuah gelar) tertinggi dalam dunia pendidikan: Professor. Saya yakin bahwa banyak orang yang berharap kedua pemimpin itu dapat merumuskan kebijakan-kebijakannya dengan berbasis pada obyektifitas, memiliki bukti-bukti yang didapatkan melalui serangkaian proses sistematis, semua bersesuaian dengan nature dari jabatan/gelarnya. Hal ini dikenal sebagai kebijakan berbasis bukti atau evidence based policy . Sebuah tantangan yang tidak mudah mengingat bahwa dunia kebijakan sangat kompleks dan terlalu banyak faktor yang mempengaruhi, bukti dan/atau hasil riset hanya salah satu faktor saja.  Mengapa kita layak berharap pada kebijakan berbasis evidence ? Meskipun bukan menjadi hal baru karena sejak zaman Yunani Kuno, Aristoteles telah mengajukan pemikiran tentang perlunya kontribusi beragam pengetahuan pada pembuatan aturan...

Saya tidak mau berdamai dengan Covid19

Image
gambar diambil dari freepik.com Berdamai itu seperti apa? jika dalam konteks kita berkonflik atau berperang maka secara sederhana makna berdamai itu adalah kedua belah pihak bersepakat untuk tidak saling serang. Menurut KBBI, perdamaian adalah penghentian permusuhan/perselisihan. Damai dalam artian lain adalah kondisi dimana ketiadaan konflik, kondisi aman, tenteram, tenang, rukun.   Kita diajak berdamai dengan covid19, artinya ada 2 pihak; kita dan covid19. apakah kontek perdamaian perang/konflik lebih pas untuk memaknai himbuan perdamaian dengan covid ini atau dalam makna kondisi aman, tenang dan rukun. Jika ada 2 pihak, maka yang paling relevan adalah konteks dua belah pihak berkonflik. Toh selama ini ramai narasi "perang melawan covid19". Jika berdamai dalam konteks perang, maka kedua belah pihak dituntut untuk melakukan sesuatu agar kondisi damai bisa terwujud. Bisakah kita bernegosiasi dengan virus covid19 ini agar dia melakukan sesuatu agar kita bisa berdamai? Rasanya ...

Wahai perempuan, speak louder please, make yourself heard!

Image
Sabtu tanggal 25 April lalu Majelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Sulsel mengadakan webinar tentang Covid 19 dan dampaknya terhadap perempuan. Saya dan mahasiswa dimata kuliah "Gender dalam Hubungan Internasional" berkesempatan untuk nimbrung. Saya mengajak mahasiswa saya mengikuti webinar tersebut karena dua alasan: topiknya relevan serta sesuai dengan dinamika aktual dan karena webinar menghadirkan pembicara yang luar biasa, sayang untuk dilewatkan. Dalam diskusi yang waktunya sangat terbatas tersebut memang tidak mampu mengutarakan semua pendapat orang, oleh karena itu saya mencurahkannya lewat status dengan mengupayakan seringkas mungkin. Dalam mata kuliah, kami membahas artikel ini dimana ada beberapa negara menunjukkan statistik yang bagus dalam menghadapi pandemi, dan negara-negara ini punya kesamaan: dipimpin oleh perempuan. Dalam diskusi kemaren saya sebenarnya mau mengajak para tokoh perempuan agar tidak hanya berbicara tentang dampak Covid ini ter...

Kelasku adalah sebuah group band

Image
Saya ingin cerita kisah Victor Wooten seorang musisi, pemain bass, dimasa kecil awal dia belajar bermusik. Pada saat dia lahir, kakak-kakaknya sudah bermain musik dan membentuk sebuah band keluarga. Band itu kekurangan seorang pemain bass. Yang dilakukan kakaknya adalah mengajak victor kecil berada ditengah tengah band yang sedang bermusik dan dan kakaknya menyiapkan kursi kecil dan gitar mainan dari plastik diatasnya. Victor kecil langsung duduk dikursi itu, mengambil gitar plastik dan seolah dia juga adalah salah satu player . Kakaknya tidak mengarahkannya bagaimana memegang atau memainkan notes gitar dengan benar, kakaknya hanya ingin Victor disitu dan merasakan ' groove ' dari musik. Dia ingin Victor bisa menemukan kesenangan dalam bermusik. Seorang anak kecil akan terlihat senyum bahagia meski hanya berimajinasi seolah bergitar, jangan interupsi atau senyum itu akan hilang seketika. Victor menjadi pemain bass yang fungsinya sebagai rythm atau penjaga ritme agar m...

Nikmatnya Teori Konspirasi di Tengah Pandemi

Image
Terjadi 2 hal saat ini, pandemi virus covid19 pada saat yang sama epidemi mis-informasi. Padahal, satu saja yang terjadi diantara kedua hal itu maka akan terjadi petaka. Sepertinya kita harus bisa menerima bahwa kedua hal tersebut seolah teman jalan yang sulit untuk dipisahkan. Untuk hal pandemi global virus corona ini kita sudah menyerahkannya pada ahli virulogi, sulit bagi kita yang awam untuk melibatkan diri dalam "perlombaan" menemukan vaksin. Namun "virus mis-informasi" yang seolah menjadi pupuk menumbuhkan suburkan teori konspirasi, semua orang (harus) bisa terlibat untuk mempelajari dan kemudian mencari serupa vaksin karena "virus" ini berpotensi menginfeksi siapa saja, bersemayam jauh dalam alam bawah sadar dan kita menjadi carrier sepanjang hidup kita, lalu mendarah daging, kemudian menjadi tabiat dan berakhir dengan menikmatinya. Jonathan meyakini bahwa sejarah menunjukkan setiap epidemi yang sangat kuat mengancam jiwa akan menghasil...

Revolusi Senyap Market Society

Image
Ada pertanyaan yang harus kita jawab secara bersama. Seperti apa sebaiknya peran uang dalam masyarakat? Tulisan ini ingin menceritakan kembali bagaimana Michael J. Sandel menjawab pertanyaan tersebut dalam sebuah presentasinya di Edinburgh, Juni 2013 lalu yang diberi judul “kenapa kita sebaiknya tidak mempercayakan mekanisme  pasar  mengatur kehidupan  sosial  kita”. Sandel menceritakan bahwa di Santa Barbara, California, ada penjara yang jika tahanan tidak suka dengan fasilitas standar penjara, maka dia bisa membayar $82 per malam untuk  upgrade  kualitas fasilitas kamar penjara. Jika anda pergi ke theme park, dan anda tidak ingin mengantri panjang di satu wahana yang populer, sekarang sudah ada solusinya. Di hampir semua theme park anda bisa membayar agar anda bisa langsung ditempatkan di antrian terdepan. Orang menyebutnya jalur cepat atau tiket VIP. Di Washington DC, antrian panjang biasanya terjadi untuk menghadiri  hearing  oleh co...