Bertanya!
Tindakan sederhana seperti ‘bertanya’ ternyata punya makna yang berbeda tergantung konteks relasi sosial budaya. Di konteks yang relasi kuasanya sangat kuat, hirarki sangat tinggi, bertanya dimaknai sebagai tindakan menantang otoritas, ingin menggeser atau menggugat tanggung jawab. Sementara di konteks sosial yang relasi kuasanya tidak terlalu terasa atau lebih egaliter, bertanya dilihat sebagai sebuah tindakan untuk menghadirkan obrolan yang lebih setara, dimaknai sebagai upaya melibatkan diri dalam pengambilan keputusan atau dalam melakukan kolaborasi.
Saya mulai sadar akan perbedaan ini setelah beberapa lama mengalami langsung lingkungan akademik di Belanda, dimana secara kultur orang Belanda memiliki relasi yang lebih egaliter, dan tidak terlalu terasa hirarki. Tentu hirarki secara struktural ada, tapi tidak terlalu nampak dalam relasi personal. Salah satu kejutan budaya yang saya alami, adalah ketika dalam satu acara diskusi, seorang ketua departemen tidak dapat kursi dan harus duduk dikarpet. “kurang ajarnya ini semua PhD, na liat-liati ji kadept, professor lagi, duduk dikarpet” begitu dalam hatiku. Setelah berapa lama, ah biasa saja itu, “siapa suruh ko terlambat, nda ada mi kursi.”
Awal-awal interaksi dengan dosen pembimbing, saya sering mengalami keraguan untuk bertanya, takut dianggap tidak sopan, tidak mau mendengar bahkan menantang otoritas keilmuan dosen pembimbing. Butuh waktu lama untuk sampai pada relasi dimana saya sudah dengan nyaman bertanya “kenapa saya harus melakukan itu? (atas sesuatu yang dia sarankan)” jawaban dia “hmm, iya kenapa yah?” begitu respons awalnya lalu dia menjelaskan alasannya.
Saya membayangkan, di konteks kultur yang relasi kuasa atau hirarki lebih kuat, bertanya kepada dosen pembimbing, apalagi dia seorang professor, mungkin akan terasa menakutkan. “ikuti mi saja apa nabilang, biar aman lancar” kurang lebih begitu ekspresi yang pernah saya dengarkan langsung. Nda usah banyak bertanya. Dalam konteks seperti ini, guru atau dosen, merasa wajib untuk datang ke kelas dengan persiapan penuh karena dituntut untuk menjadi sumber pengetahuan, dituntut bisa seperti chatGPT; yang punya jawaban atas semua pertanyaan.
Dalam mata kuliah Pengantar Antropologi, seorang mahasiswa bertanya dan minta maaf karena dia sudah banyak bertanya dan sudah menantang bahkan membantah argumentasi saya, dengan tegas dia pernah bilang “noo saya tidak sepakat dengan kita kak” lalu kami terlibat dalam diskusi. Dia minta maaf, padahal saya menikmati diskusi itu, sudah lama rasanya tidak terlibat diskusi dengan mahasiswa yang berhamburan pertanyaan yang thought provoking. Diakhir kelas saya apresiasi mahasiswa itu sudah bertanya dan sudah provoked my critical thinking, akhirnya membuat saya selalu bersemangat masuk kelas mereka. Yah barangkali saya sudah terpapar kultur yang lebih egaliter sehingga saya ikut-ikutan mengencourage mahasiswa untuk bertanya, bahkan membantah saya dikelas. Dibanding merasa punya semua jawaban, saya lebih memilih membuat mereka bertanya dan kita temukan jawabannya sama-sama. Kalaupun dituntut menjawab, seringkali jawaban saya begini: "saya bisa merespons pertanyaanmu, dan responseku belum tentu jawaban dari pertanyaanmu, kalau pun itu jawabannya, belum tentu benar." Lalu, setelah meresponse, biasanya saya tanya balik "menurutmu bagaimana?" karena saya berharap ada exchange of views.
Tidak mudah ternyata! Dalam diskusi dikelas itu, kami sampai pada topik bahwa nampaknya ada yang tidak beres dalam pendidikan dasar kita, karena siswa tidak boleh bertanya ke guru, apalagi pertanyaan kritis, itu sama saja dengan menantang otoritas kebenaran, bahkan dinilai kurang sopan. Jika selama 16 tahun pendidikan formal dan pendidikan dirumah, bertanya adalah hal yang perlu ditekan, maka jangan harap mahasiswa bisa kritis ketika sampai di universitas. Saya bilang “omong kosong saya bisa ubah kalian dalam 4 tahun karena sudah belasan tahun kalian terdidik untuk tidak bertanya”
Tulisan refleksi ini saya tulis dipicu oleh refleksi salah satu peserta kursus yang dilaksanakan oleh Pia Lauritzen. Pia adalah orang yang membranding dirinya sebagai seorang tech philosopher dan bukunya yang berjudul “Question” akhirnya tiba dirumah. Buku yang saya niatkan baca menemani penerbangan menuju Makassar akhir pekan ini. Mungkin saja setelah membaca buku ini, saya sampai di Makassar-Unhas dengan banyak pertanyaan, salah satunya: adakaah Ngopirong?
Amsterdam, 30 Oktober 2025


Comments
Post a Comment